Berita Lain

Indeks Berita



Jumat, 20/06/2008 15:36 WIB

Euro 2008, Berkah Bagi Pengemis
Hanum Salsabiela Rais - detiksport


Detiksport/Hanum Salsabiela Rais

Wina - Kumandang "We are the champions" terdengar di tengah Kota Wina. Itu bukan pesta perayaan juara karena final memang belum digelar. Nyanyian tersebut keluar dari bibir mungil empat bocah di salah satu sudut Stephanplatz.

"We are the Champion, my friend…and we keep on fighting til the end". Sepenggal lirik milik Queen itui pastinya sudah kita kenal karena itu sudah seperti "lagu wajib" buat sang pemenang di semua ajang olahraga. Namun di salah satu sudut Stephanplatz, pusat Kota Wina, empat anak itu tidak sedang merayakan apapun.

Si perempuan memetik gitar sementara yang lain menyanyi sambil bertepuk tangan, sementara di depannya sebuah topi dan kaleng kecil menengadah, menunggu logam-logam uang receh jatuh dari banyak orang yang hilir mudik.

Puluhan bahkan ratusan orang yang bersliweran di depannya terkadang menyempatkan untuk menaruh koin uang ke dalam topi dan kaleng yang disediakan. Termasuk seorang pria memakai kaos tim nasional Italia yang menyisihkan uangnya untuk ‘grup penyanyi’ itu.

Demikianlah gambaran pengemis di Kota Wina sejak Piala Eropa dimuali awal Juni lalu. Mereka seperti mendapat berkah berkali-kali lipat. Memanfaatkan belas kasih para fans bol untuk mendapat sepeser uang, berbagai cara mereka tempuh untuk mencuri perhatian pengunjung kota yang menurut statistik bertambah 2 kali lipat sejak Euro digelar.

Tak hanya menyanyi dan bermain alat musik seperti yang diperagakan oleh anak-anak tersebut. Mereka juga menggelar atraksi dan akrobat yang unik. Mulai dari sulap, aksi ketangkasan, breakdance, koor musik klasik, hingga sebuah show boneka kayu. Penampilan seperti ini menyedot perhatian pengunjung yang pastinya meningkatkan jumlah pemasukan.

Ada juga yang tak bermodal keahlian apapun namun tetap menyita perhatian pengunjung. Mereka hanya mendandani diri mereka seperti para tokoh perfilman atau publik figure. Contohnya, seperti raja dan ratu Austria, komponis kenamaan dunia W.A Mozart, atau seperti maskot Eurocup Trix dan Flix.

Meskipun mengharap belas kasihan orang lain demi menyambung hidup, orang-orang ini menolak dipanggil pengemis. Mereka menganggap apa yang mereka lakukan adalah sebuah bentuk karya seni.

Ini bisa jadi benar, mengingat mereka tak secara vulgar menengadahkan tangan saja. Pemerintah Wina sendiri mendukung keberadaan para seniman jalanan ini. Pasalnya, orang orang ini ikut serta secara tidak langsung memberi keanekaragaman pariwisata yang ada di Austria lewat kemahiran dan aksi kreativitas mereka.

Pemerintah Wina justru tidak mentoleransi mereka yang terang-terangan mengemis tanpa ada usaha. Makanya, jarang ditemui para pengemis atau anak jalanan yang berlalu lalang di Wina seperti layaknya di Jakarta. Pemerintah Austria juga menerapkan strategi insentif bagi para pengangguran untuk bekerja lewat sektor sektor non formal.

Salah satu contohnya adalah mempekerjakan mereka sebagai penjaja koran tempat-tempat umum seperti stasiun, terminal, sekolah, dan taman kota. Hasil dari penjualan koran tersebut separuhnya bisa dinikmati oleh para tunakarya untuk melangsungkan kehidupannya.

Tentu ini sebuah strategi yang meringankan beban ekonomi sekaligus memberikan edukasi dan motivasi yang baik untuk bekerja dan berusaha. Perlu diteladani! ( sal / din )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Baca juga:

Diskusikan pendapat Anda dengan pembaca lain melalui milis detiksport@yahoogroups.com
Kirim e-mail kosong ke detiksport-subscribe@yahoogroups.com untukberpartisipasi.

Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Yuyi di yuyi@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.522).