Markis Kido
Olimpiade Adalah Pembuktian Ambisi
Minggu, 17/08/2008 00:49 WIB

AFP/Indranil Mukherjee
Terkait
Jakarta - Bagi Markis Kido tampil di Olimpiade Beijing lebih dari sekadar kebanggaan, tetapi juga sebuah ajang pembuktian. Sedari awal ia sudah menargetkan dirinya harus bisa meraih medali emas.
Simak ucapannya berikut ini, "Bermain di Olimpiade tidaklah mudah. Karena itulah rasa kebanggaan ini harus dilengkapi dengan sebuah medali emas." Perkataan itu ia lontarkan sebelum ia pergi ke Beijing untuk berlaga, sebuah pernyataan yang terang-terang menyiratkan dirinya telah bertekad untuk mengharumkan nama Indonesia.
Sabtu (16/8/2008), apa yang ia niatkan itu akhirnya menjadi kenyataan. Bersama pasangannya, Hendra Setiawan, pemuda kelahiran 11 Agustus 1984 ini berhasil meraih medali emas usai menundukkan pasangan Cina, Fu Haifeng/Cai Yun. Emas pertama untuk Indonesia pada Olimpiade kali ini sekaligus kado manis untuk perayaan HUT RI yang ke-63.
Jalan yang dilalui untuk mendapatkan medali emas itu pun tak mudah. Kido bersama Hendra harus menjalani tiga set dengan yang pertama di antaranya takluk 12-21. Pembuktian tekad itu pun dipertaruhkan di set kedua karena apabila kalah lagi berarti habislah sudah mimpinya.
Dengan tenang, Kido bersama Hendra pun merebut set kedua dengan kemenangan 21-11 yang berarti memaksa set ketiga diadakan. Di sinilah keduanya tak terbendung lagi, mereka menang 21-16. Kontan, sorak kegembiraan langsung tercurah. Kido melempar raketnya dan bersorak kegirangan, tanda luapan emosi bahagia.
Sesungguhnya, kalau mau ditengok ke belakang, tanda-tanda untuk meraih kegemilangan itu sudah banyak. Bersama Hendra, penyuka pizza ini pernah menjuarai Asian Badminton Championship dan Indonesia Open tahun 2005. Setahun berselang giliran titel Cina Terbuka yang mereka sabet.
Puncak dunia pun berhasil diraih pada tahun 2007. Keduanya keluar sebagai juara di World Championship di Kuala Lumpur, Malaysia, usai menundukkan pasangan Korea Selatan Jung Jae-Sung/Lee Yong-Dae. Awal tahun 2008 sebuah titel juara lagi-lagi berhasil dihadirkan, yakni Malaysia Super Series.
Tahun 2008 juga menjadi tahun kelabu baginya. Ayahnya, H. Djumharbey Anwar, meninggal dunia pada 2 April 2008. Meski dirudung kesedihan Kido mencoba bersikap tegar ketika itu. "Bapak sakit memang sudah lama," ujarnya. Ia pun tetap tampil membela Indonesia di ajang Piala Thomas setelahnya kendati "Merah-Putih" pada akhirnya gagal menjadi juara.
Sejak bulan Mei 2008 lalu Kido dan Hendra menjadi pasangan ganda putra dengan rangking tertinggi. Sebuah modal penting yang menyiratkan mereka tak boleh dianggap enteng pada Olimpiade Beijing.
Dan jadilah kenyataan bahwa tempat dari kakak Pia Zebadiah ini memang di posisi tertinggi. Bersama Hendra ia berhasil mempertahankan tradisi emas Olimpiade di cabang bulutangkis yang sudah dirintis sejak Olimpiade 1992. Dengan sederet prestasi yang sudah diraihnya, apa yang baru saja ia raih diharapkan bukanlah akhir dari sebuah ambisi, melainkan sebuah awal.
( roz / din )
Dapatkan info harian khusus olahraga Raket.
Ketik REG DS RAKET kirim ke 3845 (khusus pelanggan Telkomsel)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Simak ucapannya berikut ini, "Bermain di Olimpiade tidaklah mudah. Karena itulah rasa kebanggaan ini harus dilengkapi dengan sebuah medali emas." Perkataan itu ia lontarkan sebelum ia pergi ke Beijing untuk berlaga, sebuah pernyataan yang terang-terang menyiratkan dirinya telah bertekad untuk mengharumkan nama Indonesia.
Sabtu (16/8/2008), apa yang ia niatkan itu akhirnya menjadi kenyataan. Bersama pasangannya, Hendra Setiawan, pemuda kelahiran 11 Agustus 1984 ini berhasil meraih medali emas usai menundukkan pasangan Cina, Fu Haifeng/Cai Yun. Emas pertama untuk Indonesia pada Olimpiade kali ini sekaligus kado manis untuk perayaan HUT RI yang ke-63.
Jalan yang dilalui untuk mendapatkan medali emas itu pun tak mudah. Kido bersama Hendra harus menjalani tiga set dengan yang pertama di antaranya takluk 12-21. Pembuktian tekad itu pun dipertaruhkan di set kedua karena apabila kalah lagi berarti habislah sudah mimpinya.
Dengan tenang, Kido bersama Hendra pun merebut set kedua dengan kemenangan 21-11 yang berarti memaksa set ketiga diadakan. Di sinilah keduanya tak terbendung lagi, mereka menang 21-16. Kontan, sorak kegembiraan langsung tercurah. Kido melempar raketnya dan bersorak kegirangan, tanda luapan emosi bahagia.
Sesungguhnya, kalau mau ditengok ke belakang, tanda-tanda untuk meraih kegemilangan itu sudah banyak. Bersama Hendra, penyuka pizza ini pernah menjuarai Asian Badminton Championship dan Indonesia Open tahun 2005. Setahun berselang giliran titel Cina Terbuka yang mereka sabet.
Puncak dunia pun berhasil diraih pada tahun 2007. Keduanya keluar sebagai juara di World Championship di Kuala Lumpur, Malaysia, usai menundukkan pasangan Korea Selatan Jung Jae-Sung/Lee Yong-Dae. Awal tahun 2008 sebuah titel juara lagi-lagi berhasil dihadirkan, yakni Malaysia Super Series.
Tahun 2008 juga menjadi tahun kelabu baginya. Ayahnya, H. Djumharbey Anwar, meninggal dunia pada 2 April 2008. Meski dirudung kesedihan Kido mencoba bersikap tegar ketika itu. "Bapak sakit memang sudah lama," ujarnya. Ia pun tetap tampil membela Indonesia di ajang Piala Thomas setelahnya kendati "Merah-Putih" pada akhirnya gagal menjadi juara.
Sejak bulan Mei 2008 lalu Kido dan Hendra menjadi pasangan ganda putra dengan rangking tertinggi. Sebuah modal penting yang menyiratkan mereka tak boleh dianggap enteng pada Olimpiade Beijing.
Dan jadilah kenyataan bahwa tempat dari kakak Pia Zebadiah ini memang di posisi tertinggi. Bersama Hendra ia berhasil mempertahankan tradisi emas Olimpiade di cabang bulutangkis yang sudah dirintis sejak Olimpiade 1992. Dengan sederet prestasi yang sudah diraihnya, apa yang baru saja ia raih diharapkan bukanlah akhir dari sebuah ambisi, melainkan sebuah awal.
( roz / din )
Dapatkan info harian khusus olahraga Raket.
Ketik REG DS RAKET kirim ke 3845 (khusus pelanggan Telkomsel)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Redaksi: redaksi[at]staff.detik.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detikSport.com,
Telepon 021-7941177 (ext.524).
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Elin Ultantina di iklan[at]detikSport.com,
Telepon 021-7941177 (ext.524).
BeritaTerbaru
-
Selasa, 07/02/2012 15:36 WIB
Djokovic Bidik Titel Prancis Terbuka & Olimpiade
-
Minggu, 05/02/2012 03:26 WIB
Cedera Punggung, Azarenka Mundur dari Laga Piala Fed
- Selasa, 07/02/2012 22:03 WIB
Suporter Persija dan Persipura Bentrok
- Rabu, 08/02/2012 07:39 WIB
Saran Gullit ke Chelsea: Tepikan Torres Usai Drogba Kembali
- Rabu, 08/02/2012 03:09 WIB
Allegri Kritik Klaim Penalti Juve
- Rabu, 08/02/2012 06:39 WIB
Jelang MU vs Liverpool
Menanti Evra & Suarez Berjabat Tangan
- Rabu, 08/02/2012 09:04 WIB
Jelang Barca vs Valencia
Los Che Akan Matikan Messi
- Kamis, 02/02/2012 20:00 WIB
'Keputusan CAS Soal Persipura Belum Mengikat'
- Kamis, 02/02/2012 04:57 WIB
Valencia vs Barca Berakhir 1-1
- Rabu, 01/02/2012 18:20 WIB
PSSI Masih Didemo Suporter Pro Statuta
- Senin, 06/02/2012 01:01 WIB
Sempat Tertinggal Tiga Gol, MU Imbangi Chelsea
- Senin, 06/02/2012 04:12 WIB
'Seharusnya MU Dapat 4 Penalti dan Cahill Dikartu Merah'




Sending your message





(2).gif)

---125x125.gif)

.gif)


